Minggu, 29 Juni 2014

BEHAVIORISME


BEHAVIORISME



A.    Latar Belakang
  Teori behaviorisme merupakan salah satu bidang kajian psikologi experimental yang kemudian diadopsi oleh dunia pendidikan. Meskipun dikemudian hari muncul berbagai aliran baru sebagai reaksi terhadap behaviorisme, namun harus diakui bahwa teori ini telah mendominasi argumentasi tentang fenomena belajar manusia hingga penhujung abad 20.
Menurut teori ini yang terpenting adalah masuk atau input yang berupa stimulus dan keluaran atau output yang berupa respon. Sedangkan apa yang terjadi diantara stimulus dan respon dianggap tidak penting diperhatikan karena tidak bisa diamati.
Dalam teori behaviorisme, menganalisa hanya perilaku yang nampak saja, yang dapat diukur, dilukiskan, dan diramalkan. Teori kaum behavoris lebih dikenal dengan nama teori belajar, karena seluruh perilaku manusia adalah hasil belajar. Belajar artinya perubahan perilaku organisme sebagai pengaruh lingkungan. Behaviorisme tidak mau mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional; behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalian oleh faktor-faktor lingkungan. Dalam arti teori belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia. Memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberi respon terhadap lingkungan. Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka. Dari hal ini, timbulah konsep ”manusia mesin” (Homo Mechanicus).

B.     Tujuan Penulisan
         Dalam terbitnya artikel ini diharapkan pembaca dapat mencapai tujuan-tujuan berikut:
Kognitif
  1. Mampu  menyebutkan tokoh-tokoh aliran behavioristik. (C1)
  2. Mampu menjelaskan teori behaviorisme dalam pembelajaran. (C2)
Psikomotorik
  1. Mampu merancang Rencana Pelaksanaan Pengajaran (RPP) berdasarkan teori behaviorisme. (P6)
Afektif
  1. Mampu menghubungkan teori behaviorisme melalui Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. (A4
C.    Teori
·      Pengertian Behaviorisme
                    Teori belajar behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.
            Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
                        Sebuah sudut pandang teoritis yang dikenal dengan nama behaviorisme, yang memusatkan perhatian pada bagaimana stimulus-stimulus lingkungan menyebabkan perubahan perilaku-peilaku orang. secara lebih dekat, sudut pandang bahavioris ini dan menggunakan teori behavioris untuk memahami bagaimana, sebagai guru, kita dapat membantu siswa memperoleh perilaku-perilaku yang mereka tampilkan.
                       
Behaviorisme adalah aliran yang khususnya di Amerika Serikat. Aliran ini ditemukan ole John B. Watson (878-1958). Ia menentang pendapat yang umumnya berlaku di saat itu bahwa dalam eksperimen-eksperimen psikologi diperlukan intropeksi. Intropeksi yang berarti mengamati perasaan diri, digunakan dalam eksperimen-eksperimen laboratorium Wundt untuk mengetahui ada atau tidak adanya perasaan-perasaantertentu dalam diri orang yang diperiksa. Jadi, orang yang diperiksa dapat mengetahui perasaan-perasaan apa yang dapat ditimbulkannya dalam eksperimen-eksperimennya. Oleh karena itu psikologi Wundt dikenal juga nama psikologi intropeksi. Watson, di lain pihak, memperkenalkan psikologi ysng sama sekalii mempergunakan intropeksi, karena yang lebiih penting adalah proses adaptasi, gerakan otot-otot dan aktivitas kelnjar-kelenjar.

                        Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pebelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. 

                        Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pebelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.
                        Teori behaviorisme terbagi dalam beberapa cabang. Salah satu cabangnya adalah classical conditioning, dan classical conditioning salah satu cabang teorinyanya adalah teori pavlov. `Ivan Pavlov, yang berhasil membuktikan bahwa anjing-anjing akan mengeluarkan air liur setiap kali mendengar bunyi garfu tala (bel), sekalipun mereka tidak mendapatkan daging, peristiwa ini disebut dengan “ refleks bersyarat.”

Sumber; robolabwiki.sdu.dk

·         Teori Behaviorisme Menurut Para Ahli
Ø  Teori Watson
            Watson mendefinisikan belajar sebagai proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon yang dimaksud harus dapat diamati (observable) dan dapat diukur. Jadi walaupun dia mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar, namun dia menganggap faktor tersebut sebagai hal yang tidak perlu diperhitungkan karena tidak dapat diamati.
Ø  Teori Chalk Hull
           
            Hull mengatakan kebutuhan biologis (drive) dan pemuasan kebutuhan biologis (drive reduction) adalah penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga stimulus (stimulus dorongan) dalam belajarpun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respon yang akan muncul mungkin dapat berwujud macam-macam. Penguatan tingkah laku juga masuk dalam teori ini, tetapi juga dikaitkan dengan kondisi biologis
Ø  Teori Edwin Guthrie
            Azas belajar Guthrie yang utama adalah hukum kontiguiti. Yaitu gabungan stimulus-stimulus yang disertai suatu gerakan, pada waktu timbul kembali cenderung akan diikuti oleh gerakan yang sama. Guthrie juga menggunakan variabel hubungan stimulus dan respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Belajar terjadi karena gerakan terakhir yang dilakukan mengubah situasi stimulus sedangkan tidak ada respon lain yang dapat terjadi.
Ø  Teori skinner
            Sumber; rudicahyo.com
            . Menurut Skinner hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dengan lingkungannya, yang kemudian menimbulkan perubahan tingkah laku, tidaklah sesederhana yang dikemukakan oleh tokoh- tokoh sebelumnya. Menurutnya respon yang diterima seseorang tidak sesederhana itu, karena stimulus-stimulus yang diberikan akan saling berinteraksi dan interaksi antar stimulus itu akan memengaruhi respon yang dihasilkan. Respon yang diberikan ini memiliki konsekuensi-konsekuensi.
·                     Aplikasi Pembelajaran Melalui Teori Behaviorisme
                        Dari beberapa penguat-penguat yang efektif pada setiap jenjang, dapat memberikan dampak yang berbeda jika pelaksanaannya tidak diatur sedemikian pula, salah satunya yaitu dengan membuat rencana pelaksaan pembelajaran, RPP dapat menjadikan pembelajaran menjadi teroganisir.

D.    Analisis Teori
            Teori behavioristik banyak dikritik karena seringkali tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks, sebab banyak variabel atau hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan dan/atau belajar yang dapat diubah menjadi sekedar hubungan stimulus dan respon. Teori ini tidak mampu menjelaskan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam hubungan stimulus dan respon.
            Program-program pembelajaran seperti Teaching Machine, Pembelajaran berprogram, modul dan program-program pembelajaran lain yang berpijak pada konsep hubungan stimulus-respons serta mementingkan faktor-faktor penguat (reinforcement). Pendidik yang masih menggunakan kerangka behavioristik biasanya merencanakan kurikulum dengan menyusun isi pengetahuan menjadi bagian-bagian kecil yang ditandai dengan suatu keterampilan tertentu. Kemudian, bagian-bagian tersebut disusun secara hirarki, dari yang sederhana sampai yang komplek.
            Teori behavioristik juga cenderung mengarahkan pebelajar untuk berfikir linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif. Pandangan teori ini bahwa belajar merupakan proses pembentukan atau shaping, yaitu membawa pelajar menuju atau mencapai target tertentu, sehingga menjadikan peserta didik tidak bebas berkreasi dan berimajinasi. Padahal banyak faktor yang memengaruhi proses belajar, proses belajar tidak sekedar pembentukan atau shaping.
            Menurut Guthrie hukuman memegang peranan penting dalam proses belajar. Namun ada beberapa alasan mengapa Skinner tidak sependapat dengan Guthrie, yaitu:
·  Pengaruh hukuman terhadap perubahan tingkah laku sangat bersifat sementara;
·         Dampak psikologis yang buruk mungkin akan terkondisi (menjadi bagian dari jiwa si terhukum) bila hukuman berlangsung lama;
  • Hukuman yang mendorong si terhukum untuk mencari cara lain (meskipun salah dan buruk) agar ia terbebas dari hukuman. Dengan kata lain, hukuman dapat mendorong si terhukum melakukan hal-hal lain yang kadangkala lebih buruk daripada kesalahan yang diperbuatnya.
            Skinner lebih percaya kepada apa yang disebut sebagai penguat negatif. Penguat negatif tidak sama dengan hukuman. Ketidaksamaannya terletak pada bila hukuman harus diberikan (sebagai stimulus) agar respon yang muncul berbeda dengan respon yang sudah ada, sedangkan penguat negatif (sebagai stimulus) harus dikurangi agar respon yang sama menjadi semakin kuat. Misalnya, seorang pebelajar perlu dihukum karena melakukan kesalahan. Jika pebelajar tersebut masih saja melakukan kesalahan, maka hukuman harus ditambahkan. Tetapi jika sesuatu tidak mengenakkan pebelajar (sehingga ia melakukan kesalahan) dikurangi (bukan malah ditambah) dan pengurangan ini mendorong pebelajar untuk memperbaiki kesalahannya, maka inilah yang disebut penguatan negatif.
          Lawan dari penguatan negatif adalah penguatan positif (positive reinforcement). Keduanya bertujuan untuk memperkuat respon. Namun bedanya adalah penguat positif menambah, sedangkan penguat negatif adalah mengurangi agar memperkuat respons
E.     Kreativitas dan Inovasi
·         Ayat yang berhubungan dengan teori Behaviorisme
            وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ  .
            Artinya; Dan, bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalannya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa. (Q.S. al-An’am [6]: 153)
            Dari arti kata “Dan, bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus,maka ikutilah Dia...” adalah stimulus dan termasuk penguatan positif agar memperkuat respons, yaitu dari arti kata “...Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.”.

























RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

MATA PELAJARAN                 : FISIKA

KELAS                                        : XI (UMUR 17 TAHUN)

MATERI POKOK                      : ALAT-ALAT OPTIK

TAHAP                                        : OPERASIONAL FORMAL

        NAMA MURID BINAAN        : NIKEN AJITIA PUTRI



A.    Kompetensi Dasar dan Indikator
       1.5       Mengagumi keteraturan dan kompleksitas ciptaan Tuhan tentang aspek fisik dan kimiawi, kehidupan  dalam  ekosistem, dan peranan manusia dalam lingkungan serta mewujudkannya dalam pengamalan ajaran agama yang dianutnya. (PB 10)
Indikator:
1)      Mengagumi alat-alat optik ciptaan Tuhan yang begitu berguna dikehidupan manusia.
       2.5       Menunjukkan perilaku ilmiah dalam aktivitas sehari-hari sebagai wujud implementasi sikap dalam melakukan pengamatan, percobaan dan/atau berdiskusi. (PB 9)
Indikator:
1)  Memiliki rasa ingin tahu 
2)  Menunjukkan ketekunan dan tanggungjawab dalam belajar dan bekerja baik secara individu maupun berkelompok
       3.5       Mendeskripsikan alat-alat optik secara kualitatif dan kuantitatif dengan membuat alat sederhana yang menarik. (PB 13)
Indikator:
1)      Menentukan kekuatan lensa kacamata pada penderita miopi dan hipermetropi
2)      Menghitung pembesaran lup dan mikroskop
3)      Menganalisis pembentukan bayangan pada mata,lup dan mikroskop
       4.5       Menghasilkan pemahaman baru dalam  melakukan  perbesaran lup dan mikroskop setelah adanya stimulus dari konsep yang telah didapat.(PB 8)
Indikator:
1)      Mengkombinasikan beberapa konsep yang telah disampaikan
       5.5       Membuat hasil laporan penyelidikan tentang pembentukan bayangan pada mata, lup dan mikroskop.(PB3)
Indikator:
1)      Mempraktekkan cara melukis bayangan pada lup, mikroskop dan mata.
2)      Memperlihatkan laporan sederhana hasil lukis bayangan pada lup, mikroskop dan mata.

B.     Tujuan Pembelajaran
1. Kognitif
Ø  Siswa mampu menjelaskan fungsi dan bagian alat optik mata.
                        Alasan: menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, menjelaskan adalah menerangkan; menguraikan secara terang. Kata ini merupakan kata-kata kerja operasional yang terdapat di C2, yang bermaksud siswa mampu menguraikan fungsi dan bagian alat optik secara terang.

Ø  Siswa mampu membuktikan pembentukan bayangan pada mata, lup, dan mikroskop.
                        Alasan: menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, membuktikan adalah memperlihatkan bukti; meyakinkan dengan bukti. Kata ini merupakan kata-kata kerja operasional yang terdapat di C3, yang bermaksud siswa mampu langsung membuktikan gambar bayangan dibuku tulis.

2. Afektif
Ø  Siswa  mampu menunjukan prinsip kerja alat-alat optik.
                        Alasan: menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, menunjukan adalah memperlihatkan ;menyatakan;menerangkan(dng bukti dsb). Kata ini merupakan kata-kata kerja operasional yang terdapat di A5, yang bermaksud siswa mampu memperlihatkan prinsip-prinsip kerja alat-alat optik.

3. Psikomotorik
Ø  Siswa mampu mempraktekkan alat-alat optik.
                        Alasan: menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, mempraktikkan adalah melakukan (apa yg tsb dl teori, pelajaran, dsb); melaksanakan;menunaikan. Kata ini merupakan kata-kata kerja operasional yang terdapat di P3, yang bermaksud siswa mampu melaksanakan apa yang telah dipahami atau dipelajari mengenai alat-alat optik.

C.    Metode Pembelajaran
1)      Inkuiri
2)      Tnya jawab
3)      Penugasan
D.    Media, Alat, dan Sumber Pembelajaran
1.    Media
1)      Ruang Praktek
2.    Alat dan Bahan (untuk setiap kelompok)
No.
Jenis
Jumlah
1
Mistar
6
2
Kamera
3
3
Lup
6
4
Mikroskop
6

3.    Sumber Belajar
a)    Buku fisika pegangan siswa kelas XI
b)   LKS fisika kelas XI

E.     Strategi Pembelajaran
1.      Pendahuluan
a.       Guru mengucapkan salam, memimpin doa sebelum belajar, serta  mengecek kehadiran siswa.
b.      Menanyakan sedikit materi pada pembelajaran  pada pertemuan sebelumnya
c.       Menjelaskan tujuan pembelajaran serta materi yang akan dibahas.
2.      Kegiatan Inti
a.    Menyampaikan informasi tentang kegiatan yang akan dilakukan siswa dalam kelompok
b.    Membagi siswa dalam kelompok (5-6 siswa/kelompok) dan mendistribusikan alat dan bahan kepada kelompok..
c.    Siswa diajak berdikusi mengenai kesamaan fungsi bagian-bagian utama mata dan mikroskop.
d.   Siswa diajak berdikusi mengenai sifat-sifat bayangan pada lup.
e.    Menginformasikan cara melukis bayangan pada lup.
f.     Menyelesaikan permasalahan mikroskop dengan persamaan  matematis
g.    Guru mengecek hasil diskusi kelompok.

3.      Penutup
a.    Bersama siswa menyimpulkan hasil pembelajaran hari ini, serta mendorong siswa untuk selalu bersyukur atas karunia Tuhan
b.    Mengevaluasi pembelajaran dengan mengerjakan latihan dalam uji kompetensi dan hasilnya dikumpulkan.
c.     Memberikan penghargaan bagi kelompok yang melakukan diskusi dengan kinerja yang baik.
d.   Guru menutup kegiatan pembelajaran dengan mengucapkan hamdalah.

F.     Penilaian
1.      Teknik dan Bentuk Instrumen
Teknik
Bentuk Instrumen
·      Pengamatan Sikap
·       Lembar Pengamatan Sikap
·      Tes Unjuk Kerja
·       Tes Uji Petik Kerja dan Rubrik
·      Tes Tertulis
·       Tes Uraian dan Pilihan

2.      Instrumen
a.    Lembar Pengamatan Sikap
No.
Aspek yang di nilai
3
2
1
Keterangan
1
Mengagumi alat-alat optik ciptaan Tuhan yang begitu berguna dikehidupan manusia.





2
Memiliki rasa ingin tahu




3
Menunjukkan ketekunan dan tanggungjawab dalam belajar dan bekerja baik secara individu maupun berkelompok





Rubrik Penilaian Sikap
No.
Aspek yang dinilai
Rubrik
1
Mengagumi perhitungan alam semesta yang sangat teliti sebagai ciptaan Tuhan.
3: menunjukkan ekspresi kekaguman terhadap mekanisme alat-alat optikyang menunjukkan rasa syukur terhadap Tuhan
2: belum secara eksplisit menunjukkan ekspresi kekaguman atau ungkapan syukur, namun menaruh minat terhadap mekanisme alat-alat optik
1: belum menunjukkan ekspresi kekaguman, atau menaruh minat terhadap alat-alat optik atau ungkapan verbal yang menunjukkan rasa syukur terhadap Tuhan
2
Memiliki rasa ingin tahu
3:  menunjukkan rasa ingin tahu yang besar, antusias, terlibat aktif dalam kegiatan kelompok  
2:  menunjukkan rasa ingin tahu, namun tidak terlalu antusias, dan baru terlibat aktif dalam kegiatan kelompok ketika disuruh
1:  tidak menunjukkan antusias dalam pengamatan, sulit terlibat aktif dalam kegiatan kelompok  walaupun telah didorong untuk terlibat
3
Menunjukkan ketekunan dan tanggungjawab dalam belajar dan bekerja baik secara individu maupun kelompok
3: tekun dalam menyelesaikan tugas dengan hasil terbaik yang bisa dilakukan, berupaya tepat waktu. 
2:  berupaya tepat waktu dalam menyelesaikan tugas, namun belum menunjukkan upaya terbaiknya
1:  tidak berupaya sungguh-sungguh dalam menyelesaikan tugas, dan tugasnya tidak selesai

b.      Tes Tertulis
No.
Aspek yang di nilai
3
2
1
Keterangan
1
Sebutkan sifat-sifat bayangan yang dibentuk oleh lensa obyektif pada mikroskop !




2
Tuliskan persamaan dan perbedaan fungsi mata dan kamera




3
Tukang jam yang bermata normal mengamati onderdil benda dengan lup yang kekuatannya 20 diopri, jika mata berakomodasi maksimum berapa pembesaran sudutnya?





Rubrik Penilaian Tes Tertulis
No.
Aspek yang dinilai
Rubrik
1
Sebutkan sifat-sifat bayangan yang dibentuk oleh lensa obyektif pada mikroskop !
3: menyebutkan sifat-sifat bayangan dengan tepat
2: berupaya menguraikan dengan tepat, namun belum dapat menybutkan sifat-sifat bayangan dengan tepat
1: tidak menyebutkan sifat-sifat bayangan
2
Tuliskan persamaan dan perbedaan fungsi mata dan kamera
3: menunjukkan persamaan dan perbedaan fungsi mata dan kamera
2: belum sepenuhnya menunjukkan persamaan dan perbedaan fungsi mata dan kamera, namun masih berupaya
1: tidak menunjukkan persamaan dan perbedaan fungsi-fungsi mata dan kamera dari stimulus yang telah disampaikan
3
Tukang jam yang bermata normal mengamati onderdil benda dengan  lup yang kekuatannya 20 diopri, jika mata berakomodasi maksimum berapa perbesaran sudutnya ?
3:menunjukan pembesaran sudut dengan tepat
2:belum sepenuhnya menunjukan  pembesaran sudutnya, namun masih berupayah
1; tidak menunjukan pembesaran sudutnya dari stimulus yang telah disampaikan







Mengetahui
Kepala Sekolah                                                                Guru Mata Pelajaram


.........................                                                                ...................................
NIP.                                                                                 NIP.


DAFTAR PUSTAKA
Ormord, Jeanne Ellis. Psikologi Pendidikan Jilid 1 Edisi keenam. Jakarta: Erlangga. 2008
Syah muhibbi , Psikologi pendidikan.Bandung:PT remaja rosyadakarya offset.2010
Surya, muhammad. Psikologi guru konsep dan aplikasinya. Bandung: Alfabeta.2013
Hartinah, sitti. Perkembangan peserta didik. Bandung:Refika Aditama.2008
Desmita. Psikologi perkembangan peserta didik. Bandung: PT remaja rosyadakarya offset.2010